ituasi epedemik HIV dan AIDS di Kalimantan Timur samapai akhir desember 2007 secara kumulatif berjumlah kurang lebih 574 penderita atau orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Hubungan seks yang tidak aman meruapakan penyebab utama penularan HIV dan AIDS. Memburuknya eddemik HIV dan AIDS tersebut membuat kita perlu waspada.
Pencegahan dilakukan kepada kelompok-kelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi ancaman yang dihadapi . Salah satu kelompok yang menjadi sasaran upaya pencegahan adalah kelompok yang berisiko tinggi tertular HIV dan AIDS atau kelompok rawan tertular. Indikator keberhasilan adalah apakah kelompok berisiko memahami informasi tentang bahaya HIV dan AIDS dan pencegahannya sehingga dapat menghindari perilaku yang berisiko tertular HIV dan AIDS.Upaya penanggulangan diselenggarakan oleh masyarakat dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan masyarakat dan LSM menjadi pemeran utama. Sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing, dan menciptkan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV. Sejalan dengan area prioritas dan agar dapat memenuhi pencapaian sasaran MDG,s, maka populasi yang paling berisiko mempunyai akses terhadap informasi. Maka hal yang penting yang harus dilakukan adalah memberikan informasi tentang HIV dan AIDS kepada kelompok-kelompok berisiko. Pemberian informasi merupakan kunci penentu keberhasilan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memahami pencegahan penyakit yang sangat berbahaya ini. Berdasarkan sulitnya untuk menjangkau sasaran bagi mereka yang berisiko tinggi ini, pihak BKKBN menawarkan suatu pemikiran, yaitu bagi mereka yang berisiko terhadap kemungkinan tertular terhadap HIV dan AIDS, maka solusinya menggunakan Kondom, karena kondom mempunyai fungsi ganda ( dual protection ) selain untuk melindungi PUS dari kehamilan yang tidak diinginkan juga berfungsi untuk pencegahan HIV. Konsep atau pemikiran ini jangan disalah artikan bahwa pihak BKKBN menghalalkan prostitusi , tetapi ini sebatas upaya untuk pencegahan bagi mereka yang memang berisiko tinggi tertular penyakit ini.Merujuk kepada SK Menteri Tenaga Kerja ( Menaker ) N0. 68 tahun 2004 pemerintah telah mewajibkan setiap perusahaan untuk mengembangkan program atau upaya pencegahan dan penanggulangan HIV ditempat kerja yaitu melalui program kawasan. Beberapa contoh yang perlu dikembangkan sebagai program kawasan industri dan program kawasan perusahaan. Di mana ada tumbuh lokasi WPS atau tidak jauh dari kawasan perusahaan, kawasan pelabuhan, pangkalan truk atau ojek. Jika pengelola kawasan industri, pelabuhan, pangkalan truk ini dapat diyakinkan akan pentingnya program pencegahan HIV dan AIDS untuk dikembangkan lebih lanjut dikawasannya, maka rantai penularan virus HIV dan AIDS dapat dihambat. Dengan melibatkan LSM dan pemerintah daerah / instansi terkait merancang program dan melaksanakan program pencegahan di kawaan yang berisiko tinggi. Kita harus waspada terhadap bahaya Penyakit yang berbahaya ini.
15 Juli, 2009
Mencegah HIV/AIDS dengan Informasi Akurat
BERITA “Pengidap HIV/AIDS Harus Dikarantina, Penanggulangan Belum Sentuh Penyebab Utama” yang dimuat di Harian Fajar edisi 2/7/2007 merupakan langkah mundur karena yang dikemukakan hanya mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Justru mitos inilah faktor utama yang mendorong penyebaran HIV/AIDS karena masyarakat tidak memahami HIV/AIDS sebagai fakta medis. Dalam berita disebutkan “penyebab utamanya (maksudnya penularan HIV, penulis) adalah seks bebas dan penggunaan narkoba” yang dikutip wartawan dari pernyataan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Thahrir Indonesia, Hj Ida Saadah.
Ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seks, di dalam dan di luar nikah, (bisa) terjadi kalau salah satu atau kedua-dua pasangan yang melakukan hubungan seks HIV-positif. Sebaliknya, kalau satu pasangan dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV melalui hubungan seks biar pun dilakukan di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, dan homoseksual.
Penggunaan ‘seks bebas’ pun tidak akurat karena tidak jelas apa yang dimaksud dengan seks bebas. Istilah ini merupakan terjemahan bebas dari free sex yang tidak dikenal dalam kosa kata Bahasa Inggris. Kalau ‘seks bebas’ diartikan sebagai zina, maka lagi-lagi ngawur mengaitkan ‘seks bebas’ dengan penularan HIV.
Penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi karena kondisi hubungan seks (salah satu atau dua-duanya HIV-positif), bukan sifat hubungan seks (di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, dan homoseksual). Inilah yang tidak dipahami banyak orang sehingga tidak sedikit di antara mereka yang tidak memahami fakta ini tertular HIV.
Maka, mencegah penularan HIV melalui hubungan seks adalah jangan melakukan hubungan seks, di dalam nikah atau di luar nikah, dengan orang yang HIV-positif. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam air mani dan cairan vagina sehingga (bisa) terjadi penularan kalau penis bergesekan langsung dengan vagina.
Seperti diketahui banyak kasus penularan HIV terjadi tanpa disadari karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Orang-orang yang (baru) tertular pun tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Tapi, pada rentang waktu itu seseorang yang tertular HIV sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain melalui: (a) hubungan seks di dalam dan di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, dan (d) air susu ibu (ASI).
Bertolak dari fakta di atas maka pernyataan yang menyebutkan “harus dikarantina untuk memutus rantai penyebab utama penyakit itu” tidak objektif karena penularan HIV terjadi tanpa disadari. Biar pun semua orang yang sudah terdeteksi HIV-positif dikarantina di masyarakat masih banyak orang yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi. Justru mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.
Selama ini di masyarakat muncul anggapan bahwa pekerja sekslah yang menjadi biang keladi penyebaran HIV. Ini tidak akurat karena yang menularkan HIV kepada pekerja seks adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, remaja, lajang, atau duda yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, pelajar, mahasiswa, sopir, tukang becak, pencopet, dll. Tapi, karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada diri mereka maka mereka pun tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertular HIV. Akibatnya, mereka pun tidak menyadari sudah menularkan HIV kepada orang lain.
Disebutkan pula penyebaran HIV/AIDS terjadi karena “tidak menyentuh penyebab utamanya, tapi justru menyuburkan perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba”. Ini pun lagi-lagi tidak akurat. Pertama, tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan ‘seks bebas’. Kedua, penularan HIV pada penyalahguna narkoba (bisa) terjadi kalau narkoba dipakai dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian, dan tentu saja harus ada di antara mereka yang HIV-positif. Kalau menyalahgunakan narkoba tanpa jarum suntik dengan bergantian maka tidak ada risiko penularan HIV.
Pernyataan dr Nur Fatmawati, yang menyebutkan “penanggulangan HIV/AIDS selama ini tidak efektif” dengan “legalisasi kondom yang justru memicu orang untuk seks bebas. Padahal, kondom tidak aman.” Ditambahkan "Menurut penelitian Prof Dr Dadang Hawari, pori-pori kondom lebih besar dari ukuran virus HIV.” Tidak ada penelitian Prof. Dr Dadang Hawari tentang pori-pori kondom. Lagi pula kondom yang berpori-pori adalah kondom yang terbuat dari usus hewan. Kondom ini beredar di AS dengan harga sekitar 5 dolar, sedangkan kondom yang beredar di Indonesia adalah kondom yang terbuat dari getah lateks yang tidak berpori-pori. Selain itu mencegah penularan HIV melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah adalah dengan cara menghindarkan pergesekan penis dengan vagina secara langsung.
Tapi, karena selama ini materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV/AIDS tidak mengedepankan fakta medis, maka masyarakat pun tidak memahami cara-cara pencegahan yang akurat. Untuk memerangi HIV/AIDS, bukan memerangi Odha (Orang dengan HIV/AIDS), masyarakat harus memperoleh informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Inilah salah satu kuncinya. Bukan dengan mengarantina Odha karena di masyarakat banyak orang yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.
Ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seks, di dalam dan di luar nikah, (bisa) terjadi kalau salah satu atau kedua-dua pasangan yang melakukan hubungan seks HIV-positif. Sebaliknya, kalau satu pasangan dua-duanya HIV-negatif maka tidak ada risiko penularan HIV melalui hubungan seks biar pun dilakukan di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, dan homoseksual.
Penggunaan ‘seks bebas’ pun tidak akurat karena tidak jelas apa yang dimaksud dengan seks bebas. Istilah ini merupakan terjemahan bebas dari free sex yang tidak dikenal dalam kosa kata Bahasa Inggris. Kalau ‘seks bebas’ diartikan sebagai zina, maka lagi-lagi ngawur mengaitkan ‘seks bebas’ dengan penularan HIV.
Penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi karena kondisi hubungan seks (salah satu atau dua-duanya HIV-positif), bukan sifat hubungan seks (di luar nikah, zina, melacur, jajan, selingkuh, dan homoseksual). Inilah yang tidak dipahami banyak orang sehingga tidak sedikit di antara mereka yang tidak memahami fakta ini tertular HIV.
Maka, mencegah penularan HIV melalui hubungan seks adalah jangan melakukan hubungan seks, di dalam nikah atau di luar nikah, dengan orang yang HIV-positif. Dalam jumlah yang dapat ditularkan HIV terdapat dalam air mani dan cairan vagina sehingga (bisa) terjadi penularan kalau penis bergesekan langsung dengan vagina.
Seperti diketahui banyak kasus penularan HIV terjadi tanpa disadari karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Orang-orang yang (baru) tertular pun tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Tapi, pada rentang waktu itu seseorang yang tertular HIV sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain melalui: (a) hubungan seks di dalam dan di luar nikah, (b) transfusi darah, (c) jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo, dan cangkok organ tubuh, dan (d) air susu ibu (ASI).
Bertolak dari fakta di atas maka pernyataan yang menyebutkan “harus dikarantina untuk memutus rantai penyebab utama penyakit itu” tidak objektif karena penularan HIV terjadi tanpa disadari. Biar pun semua orang yang sudah terdeteksi HIV-positif dikarantina di masyarakat masih banyak orang yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi. Justru mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.
Selama ini di masyarakat muncul anggapan bahwa pekerja sekslah yang menjadi biang keladi penyebaran HIV. Ini tidak akurat karena yang menularkan HIV kepada pekerja seks adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, remaja, lajang, atau duda yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, pelajar, mahasiswa, sopir, tukang becak, pencopet, dll. Tapi, karena tidak ada tanda, gejala, atau ciri-ciri yang khas AIDS pada diri mereka maka mereka pun tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertular HIV. Akibatnya, mereka pun tidak menyadari sudah menularkan HIV kepada orang lain.
Disebutkan pula penyebaran HIV/AIDS terjadi karena “tidak menyentuh penyebab utamanya, tapi justru menyuburkan perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba”. Ini pun lagi-lagi tidak akurat. Pertama, tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan ‘seks bebas’. Kedua, penularan HIV pada penyalahguna narkoba (bisa) terjadi kalau narkoba dipakai dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian, dan tentu saja harus ada di antara mereka yang HIV-positif. Kalau menyalahgunakan narkoba tanpa jarum suntik dengan bergantian maka tidak ada risiko penularan HIV.
Pernyataan dr Nur Fatmawati, yang menyebutkan “penanggulangan HIV/AIDS selama ini tidak efektif” dengan “legalisasi kondom yang justru memicu orang untuk seks bebas. Padahal, kondom tidak aman.” Ditambahkan "Menurut penelitian Prof Dr Dadang Hawari, pori-pori kondom lebih besar dari ukuran virus HIV.” Tidak ada penelitian Prof. Dr Dadang Hawari tentang pori-pori kondom. Lagi pula kondom yang berpori-pori adalah kondom yang terbuat dari usus hewan. Kondom ini beredar di AS dengan harga sekitar 5 dolar, sedangkan kondom yang beredar di Indonesia adalah kondom yang terbuat dari getah lateks yang tidak berpori-pori. Selain itu mencegah penularan HIV melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah adalah dengan cara menghindarkan pergesekan penis dengan vagina secara langsung.
Tapi, karena selama ini materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV/AIDS tidak mengedepankan fakta medis, maka masyarakat pun tidak memahami cara-cara pencegahan yang akurat. Untuk memerangi HIV/AIDS, bukan memerangi Odha (Orang dengan HIV/AIDS), masyarakat harus memperoleh informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Inilah salah satu kuncinya. Bukan dengan mengarantina Odha karena di masyarakat banyak orang yang sudah tertular HIV tapi tidak terdeteksi. Mereka inilah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV.
10 Juli, 2009
10 Mitos Tentang HIV dan AIDS Dimata Masarakat..........
Mulailah belajar memahami bahaya HIV/AIDS dengan terlebih dahulu mengetahui mitos-mitos HIV/AIDS yang justru cenderung dipercaya banyak orang.
1.HIV/AIDS adalah penyakit yang kebanyakan diidap oleh kaum homo.
Penyebaran utama penyakit ini adalah melalui seks dengan lawan jenis (heteroseks) dan sampai sekarang HIV/AIDS sudah menginfeksi banyak pria dan wanita di dunia. Meski penyakit ini pertama kali dikenal di Amerika di kalangan kaum homo, ternyata penyakit ini juga banyak menyebar di kalangan pengguna obat-obatan terlarang. Secara internasional, HIV/AIDS lebih sering menjadi penyakit orang-orang heteroseksual.
2.HIV/AIDS kebanyakan menyerang orang Afrika.
Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, infeksi HIV paling cepat tersebar di negara-negara di luar Afrika, termasuk India dan Rusia. Banyak negara Afrika yang telah mengalami dampak mematikan dari HIV/AIDS dan kini termasuk juga negara-negara Asia, Eropa Timur, dan India.
3.HIV/AIDS menyebar terutama karena pilihan moral yang buruk.
Sering kali wanita menjadi terinfeksi HIV karena tertular suaminya. Anak-anak paling sering terinfeksi HIV karena dilahirkan oleh ibu yang mengidap HIV. Menentukan siapa yang salah atau siapa yang menjadi korban, tidak ada gunanya.
4.Sudah banyak dana yang digunakan untuk memerangi HIV/AIDS.
Meskipun sudah banyak dana yang dikeluarkan oleh pemerintah, organisasi-organisasi swasta, dan perorangan untuk memerangi HIV/AIDS, dana dengan jumlah besar masih sangat diperlukan.
5.HIV/AIDS sudah tidak lagi menjadi masalah di Amerika.
Karena obat untuk HIV (Antiretrovirals atau ARVs) dapat dengan mudah ditemukan di Amerika, angka kematian di Amerika menurun. Faktanya, jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Amerika tidak berkurang dan jumlah orang yang baru terinfeksi juga tidak menurun.
6.ARVs tersedia di mana saja.
Meski antiretroviral semakin mudah untuk didapat, obat itu masih sulit ditemukan di banyak daerah dan di beberapa negara. Penambahan jumlah obat dan sistem pendistribusiannya sangat diperlukan di berbagai negara, khususnya di negara-negara dunia ketiga.
7.Ada obat untuk HIV/AIDS.
Memang ada perawatan untuk memperpanjang umur penderita HIV/AIDS, tapi tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Banyak peneliti yang berusaha untuk menemukan obatnya, tetapi sedikit yang yakin mereka dapat menemukan satu cara yang efektif untuk menyembuhkan seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS. Hal ini disebabkan oleh terus berubahnya virus HIV/AIDS.
8.Tidak ada harapan bagi mereka yang mengidap HIV/AIDS.
Ada kemajuan yang cukup menggembirakan dalam perawatan para pengidap AIDS dan angka bayi yang terinfeksi HIV di beberapa negara juga menurun. Penularan di beberapa negara terlihat menurun seiring dengan dijalankannnya program-program pencegahan HIV. Gereja juga menyediakan harapan dengan semakin melibatkan diri dalam program pencegahan HIV.
9.Jika saya tidak positif HIV, penyakit itu tidak berdampak untuk saya.
Tingginya angka penularan HIV/AIDS menyebabkan ketidakstabilan di banyak negara dan membalikkan kemajuan-kemajuan yang dicapai. Penyakit ini telah menyebabkan wabah TBC yang mendunia. Sebuah wabah penyakit pasti akan memberi dampak pada semua orang jika tidak segera dikenali. Jadi, semua gereja juga terkena dampaknya. Sebuah wabah penyakit akan memberi dampak buruk bagi semua orang jika tidak segera dikenali.
10.Tidak ada yang dapat saya lakukan.
Semua orang dapat melakukan sesuatu. Pertama, jadilah tenaga yang terdidik. Kemudian bantulah dengan memberi penjelasan tentang bahaya HIV/AIDS di gereja, sekolah, dan lingkungan Anda. Mulailah peduli dan berdoa agar Anda dan gereja Anda dapat terlibat. Mulailah melibatkan diri Anda dan menggunakan keterampilan yang Anda miliki untuk menghentikan penyebaran AIDS dengan merawat anak-anak yatim piatu dan orang-orang yang terinfeksi dan terkena dampak wabah penyakit mematikan ini.
1.HIV/AIDS adalah penyakit yang kebanyakan diidap oleh kaum homo.
Penyebaran utama penyakit ini adalah melalui seks dengan lawan jenis (heteroseks) dan sampai sekarang HIV/AIDS sudah menginfeksi banyak pria dan wanita di dunia. Meski penyakit ini pertama kali dikenal di Amerika di kalangan kaum homo, ternyata penyakit ini juga banyak menyebar di kalangan pengguna obat-obatan terlarang. Secara internasional, HIV/AIDS lebih sering menjadi penyakit orang-orang heteroseksual.
2.HIV/AIDS kebanyakan menyerang orang Afrika.
Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, infeksi HIV paling cepat tersebar di negara-negara di luar Afrika, termasuk India dan Rusia. Banyak negara Afrika yang telah mengalami dampak mematikan dari HIV/AIDS dan kini termasuk juga negara-negara Asia, Eropa Timur, dan India.
3.HIV/AIDS menyebar terutama karena pilihan moral yang buruk.
Sering kali wanita menjadi terinfeksi HIV karena tertular suaminya. Anak-anak paling sering terinfeksi HIV karena dilahirkan oleh ibu yang mengidap HIV. Menentukan siapa yang salah atau siapa yang menjadi korban, tidak ada gunanya.
4.Sudah banyak dana yang digunakan untuk memerangi HIV/AIDS.
Meskipun sudah banyak dana yang dikeluarkan oleh pemerintah, organisasi-organisasi swasta, dan perorangan untuk memerangi HIV/AIDS, dana dengan jumlah besar masih sangat diperlukan.
5.HIV/AIDS sudah tidak lagi menjadi masalah di Amerika.
Karena obat untuk HIV (Antiretrovirals atau ARVs) dapat dengan mudah ditemukan di Amerika, angka kematian di Amerika menurun. Faktanya, jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Amerika tidak berkurang dan jumlah orang yang baru terinfeksi juga tidak menurun.
6.ARVs tersedia di mana saja.
Meski antiretroviral semakin mudah untuk didapat, obat itu masih sulit ditemukan di banyak daerah dan di beberapa negara. Penambahan jumlah obat dan sistem pendistribusiannya sangat diperlukan di berbagai negara, khususnya di negara-negara dunia ketiga.
7.Ada obat untuk HIV/AIDS.
Memang ada perawatan untuk memperpanjang umur penderita HIV/AIDS, tapi tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Banyak peneliti yang berusaha untuk menemukan obatnya, tetapi sedikit yang yakin mereka dapat menemukan satu cara yang efektif untuk menyembuhkan seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS. Hal ini disebabkan oleh terus berubahnya virus HIV/AIDS.
8.Tidak ada harapan bagi mereka yang mengidap HIV/AIDS.
Ada kemajuan yang cukup menggembirakan dalam perawatan para pengidap AIDS dan angka bayi yang terinfeksi HIV di beberapa negara juga menurun. Penularan di beberapa negara terlihat menurun seiring dengan dijalankannnya program-program pencegahan HIV. Gereja juga menyediakan harapan dengan semakin melibatkan diri dalam program pencegahan HIV.
9.Jika saya tidak positif HIV, penyakit itu tidak berdampak untuk saya.
Tingginya angka penularan HIV/AIDS menyebabkan ketidakstabilan di banyak negara dan membalikkan kemajuan-kemajuan yang dicapai. Penyakit ini telah menyebabkan wabah TBC yang mendunia. Sebuah wabah penyakit pasti akan memberi dampak pada semua orang jika tidak segera dikenali. Jadi, semua gereja juga terkena dampaknya. Sebuah wabah penyakit akan memberi dampak buruk bagi semua orang jika tidak segera dikenali.
10.Tidak ada yang dapat saya lakukan.
Semua orang dapat melakukan sesuatu. Pertama, jadilah tenaga yang terdidik. Kemudian bantulah dengan memberi penjelasan tentang bahaya HIV/AIDS di gereja, sekolah, dan lingkungan Anda. Mulailah peduli dan berdoa agar Anda dan gereja Anda dapat terlibat. Mulailah melibatkan diri Anda dan menggunakan keterampilan yang Anda miliki untuk menghentikan penyebaran AIDS dengan merawat anak-anak yatim piatu dan orang-orang yang terinfeksi dan terkena dampak wabah penyakit mematikan ini.
Apa itu HIV / AIDS dan penularannya........
Keduanya adalah virus yang sangat mematikan, yang menyerang daya tahan tubuh. Cel dalam darah CD4+T-cellen yang mengatur daya tahan tubuh pada pasien HIV/AIDS menjadi berkurang.
Masa incubasi virus dapat berjalan dari 1 s/d 9 atau 10 tahun, tergantung daya tahan tubuh seseorang.
Pada umumnya pasien tidak pernah melewati sampai masa tahun ke 3, dalam arti kata mati.
Seorang pasien yang mengidap virus HIV/AIDS, yang dikarenakan daya tahan tubuhnya terus berkurang, maka ia akan mudah terserang infeksi.
Cara penanggulangan dan bagaimana penularannya ;
1. Sperma dari seropositif.
2. Hubungan sex bebas dan berganti-ganti patner tanpa menggunakan condom.
3. Anal sex dengan seropositif.
4. Oral sex dengan seropositif.
5. ASI dari seorang ibu seropositif
6. Pemakaian jarum suntikan dalam pemakaian drugs / obat
7. Obat terlarang yang tidak steril dan berganti-2an
8. Transfusi darah yang tercemar
jarum transfusi yang tercemar dan tidak steril
9. Terciprat darah dari seorang seropositif dan mengenai
mata atau luka
10Pertolongan via mulut ke mulut yg terdapat luka pada
pertolongan kecelakaan
Masa incubasi virus dapat berjalan dari 1 s/d 9 atau 10 tahun, tergantung daya tahan tubuh seseorang.
Pada umumnya pasien tidak pernah melewati sampai masa tahun ke 3, dalam arti kata mati.
Seorang pasien yang mengidap virus HIV/AIDS, yang dikarenakan daya tahan tubuhnya terus berkurang, maka ia akan mudah terserang infeksi.
Cara penanggulangan dan bagaimana penularannya ;
1. Sperma dari seropositif.
2. Hubungan sex bebas dan berganti-ganti patner tanpa menggunakan condom.
3. Anal sex dengan seropositif.
4. Oral sex dengan seropositif.
5. ASI dari seorang ibu seropositif
6. Pemakaian jarum suntikan dalam pemakaian drugs / obat
7. Obat terlarang yang tidak steril dan berganti-2an
8. Transfusi darah yang tercemar
jarum transfusi yang tercemar dan tidak steril
9. Terciprat darah dari seorang seropositif dan mengenai
mata atau luka
10Pertolongan via mulut ke mulut yg terdapat luka pada
pertolongan kecelakaan
Pengertian HIV dan AIDS
HIV = Human Immunodeficiency Virus
AIDS = Acquired Immuno-Deficiency Syndrome
24 April, 2009
data fakta (masih mau.......ngelakuinnya,,,,???)
dari 910 responden (siswa/i SMA/SMK di SUMUT), 32,4% (296 pesponden) telah melakukan aktifitas seksual sebagai berikut :
... ciuman
... menggunakan alat vital
... hubungan kelamin
... pelukan
(penelitian PKPA di 10sekolah di SUMUT, 2001)
... ciuman
... menggunakan alat vital
... hubungan kelamin
... pelukan
(penelitian PKPA di 10sekolah di SUMUT, 2001)
Langganan:
Postingan (Atom)

